Handphone

Thursday, February 25, 2016

Asuhan Keperawatan Diare



D I A R E


I. Pengertian

   Diare adalah keadaan kekerapan dan keenceran buang air besar dimana frekuensinya lebih dari tiga kali per hari dan banyaknya lebih dari 200 – 250 gram.

II. Etiologi

A.     Faktor Infeksi

1.      Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak.
2.      Infeksi bakteri : Vibrio coma, Ecserchia coli, Salmonella, Shigella, Compilobacter, Yersenia dan Acromonas.
3.     Infeksi virus : Entero virus (Virus echo, Coxechasi dan Poliomyelitis), Adeno virus, Rota virus dan Astrovirus.
4.      Infeksi parasit : Cacing, protozoa dan jamur.
5.      Infeksi parental, yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alatpencernaan, sepertiOtitis Media Akut, Tonsilopharingitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak dibawah 2 tahun.

B.     Bukan faktor infeksi

1.      Alergi makanan : susu dan protein.
2.      Gangguan metabolik atau malabsorbsi.
3.      Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan.
4.      Obat-obatan seperti antibiotik.
5.      Penyakit usus seperti Colitis ulserative, crohn disease dan enterocolitis.
6.      Faktor psikologis : rasa tahut dan cemas.
7.      Obstruksi usus.

III. Patofisiologi
      A. Gangguan osmotik
      Makanan atau zat yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, hal ini menyebabkan isi rongga usus berlebihan sehingga merangsang usus mengeluarkannya (diare)
B.     Gangguan sekresi
Toxin pada dinding usus meningkatkan sekresi air dan lektrolit kedalam usus, peningkatan isi rongga usus merangsang usus untuk mengeluarkannya.
      C. Gangguan motalitas usus
Hyperperistaltik menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan. Atau peristaltik yang menurun menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan menyebabkan peradangan pada rongga usus sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat hal ini menyebabkan absorsi rongga usus menurun sehingga terjadilah diare.

IV. Klasifikasi diare
Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1977) :
1.      Dehidrasi ringan: dimana berat badan menurun 3 – 5 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kgBB.
2.      Dehidrasi sedang : dimana berat badan menurun 6 – 9 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 – 90 ml/kgBB.
3.      Dehidrasi berat : dimana berat badan menurun lebih dari 10 % dengan volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/kgBB.

V. Manifestasi Klinik
      Gejal klinik yang timbul tergantung dari intensitas dan tipe diare, namun secara umum tanda dan gejala yang sering terjadi adalah :
a.       Sering buang air besar lebih dari 3 kali dan dengan jumlah 200 – 250 gr.
b.      Anorexia.
c.       Vomiting.
d.      Feces encer dan terjadi perubahan warna dalam beberapa hari.
e.       Terjadi perubahan tingkah laku  seperti rewel, iritabel, lemah, pucat, konvulsi, flasiddity dan merasa nyeri pada saat buang air besar.
f.       Respirasi cepat dan dalam.
g.      Kehilangan cairan/dehidrasi dimana jumlah urine menurun, turgor kulit jelek, kulit kering, terdapat fontanel dan mata yang cekung serta terjadi penurunan tekanan darah.

VI. Komplikasi
      Komplikasi yang sering terjadi pada anak yang menderita diare adalah :
1.      Dehidrasi
2.      Hipokalemi.
3.      Hipokalsemi
4.      Cardiac disrythmias
5.      Hiponatremi.
6.      Syok hipovolemik
7.      Asidosis.

VII. Penatalaksanaan
      Dasar-dasar penatalaksanaan diare pada anak adalah : (5 D)
1.      Dehidrasi.
2.      Diagnosis.
3.      Diet.
4.      Defisiensi disakarida
5.      Drugs
Pada dehidrasi ringan diberikan :
a.       Oralit + cairan
b.      ASI/susu yang sesuai
c.       Antibiotika (hanya kalau perlu saja)
      Pada dehidrasi sedang, penderita tidak perlu dirawat dan diberikan :
a.       Seperti pengobatan dehidrasi ringan
b.      Bila tidak minum ASI :
1.      Kurang dari 1 tahun LLM dengan takaran 1/3, 2/3 penuh ditambah oralit.
2.  Untuk umur 1 tahun lebih , BB 7 kg lebih : teh, biskuit, bubur dan seterusnya selain oralit. Formula susu dihentikan dan baru dimulai lagi secara realimentasi setalh makan nasi.
      Pada dehidrasi berat, penderita harus dirawat di RS.
      Pengobatan diare lebih mengutamakan pemberian cairan, kalori dan elektrolit yang  bisa berupa larutan oralit (garam diare) guna mencegah terjadinya dehidrasi berat, sedangkan antibiotika atau obat lain hanya diberikan bila ada indikasi yang jelas. Spasmolitika dan obstipansia pada diare tidak diberikan karena tidak bermanfaat bahkan dapat memberatkan penyakit.
VIII. Asuhan Keperawatan
A.  Pengkajian
Dasar data pengkajian klien :
     1. Aktivitas/Istirahat
         Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah. Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare. Merasa gelisah dan ansietas. Pembatasan aktivitas/kerja s/d efek proses penyakit.
     2. S i r k u l a s i
         Tanda   :   Takhikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses imflamasi dan nyeri). Kemerahan, area ekimosis (kekurangan vitamin K). Hipotensi termasuk postural. Kulit/membran mukosa : turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi/malnutrisi).
     3. Integritas Ego
         Gejala :    Ansietas, ketakutan, emosi kesal, mis. Perasaan tidak berdaya/tidak ada harapan. Faktor stress akut/kronis mis. Hubungan dengan keluarga/pekerjaan, pengobatan yang mahal. Faktor budaya – peningkatan prevalensi.
           Tanda  :  Menolak, perhatian menyempit, depresi.
     4. E l i m i n a s i
         Gejala :   Tekstur feses bervariasi dari bentuk lunak sampai bau atau berair. Episode diare berdarah tidak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering tidak dapat dikontrol, perasaan dorongan/kram (tenesmus). Defakasi berdarah/pus/mukosa dengan atau tanpa keluar feces. Peradarahan perektal.
      Tanda :     Menurunnya bising usus, tidak ada peristaltik atau adanya peristaltik yang dapat dilihat. Haemoroid, oliguria.
     5. Makanan/Cairan
         Gejala :    Anoreksia, mual/muntah. Penurunan BB. Tidak toleran terhadap diet/sensitive mis. Buah segar/sayur, produk susu, makanan berlemak.
         Tanda :     Penurunan lemak subkutan/massa otot. Kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk. Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut.


     6. H i g i e n e
         Tanda  :    Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri. Stomatitis menunjukkan kekurangan vitamin. Bau badan.
     7. Nyeri/Kenyamanan
         Gejala  :   Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kanan bawah (mungkin hilang dengan defakasi). Titik nyeri berpindah, nyeri tekan, nyeri mata, foofobia.
         Tanda  :    Nyeri tekan abdomen/distensi.
     8. K e a m a n a n
          Gejala  :   Anemia hemolitik, vaskulitis, arthritis, peningkatan suhu (eksaserbasi akut), penglihatan kabur. Alergi terhadap makanan/produk susu.
         Tanda  :    Lesi kulit mungkin ada, ankilosa spondilitis, uveitis, konjungtivitis/iritis.
     9. Interaksi Sosial
           Gejala  :  Masalah hubungan/peran s/d kondisi, ketidakmampuan aktif dalam sosial.
     11. Penyuluhan Pembelajaran
           Gejala  :  Riwayat keluarga berpenyakit Diare.

B. Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Rasionalisasi Yang Lazim Terjadi
     1. Diare b/d imflamasi, iritasi dan malabsorpsi usus, adanya toksin dan penyempitan segemental usus ditandai dengan :
           -     Peningkatan bunyi usus/peristaltik.
           -     Defakasi sering dan berair (fase akut)
           -     Perubahan warna feses.
           -     Nyeri abdomen tiba-tiba, kram.
           Tujuan :
           -     Keluarga akan melaporkan penurunan frekuensi defakasi, konsistensi kembali normal.
           -     Keluarga akan mampu mengidentifikasi/menghindari faktor pemberat.
           Intervensi :
           a. Observasi dan catat ferkuensi defakasi, karekteristik, jumlah dan faktor pencetus.
                 R/ : Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya episode.
                  b.   Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur.
                        R/  :     Istirahat menurunkan motalitas usus juga menurunkan laju metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi. Defakasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda dan dapat tidak terkontrol, peningkatan resiko inkontinensia/jatuh bila alat-alat tidak dalam jangkauan tangan.
                  c.   Buang feses dengan cepat dan berikan pengharum ruangan.
                        R/  :  Menurunkan bau tak sedap untuk menghindari rasa malu klien.
                  d.   Identifikasi makanan/cairan yang mencetuskan diare.
                        R/  :  Menghindari iritan dan meningkatkan istirahat usus.
                  e.   Observasi demam, takhikardi, lethargi, leukositosis/leukopeni, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan.
                        R/  :     Tanda toksik megakolon atau perforasi dan peritonitis akan terjadi/telah terjadi memerlukan intervensi medik segera.
                  f.    Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
-          Antikolinergik.
R/ : Menurunkan motalitas/peristaltik GI dan menurunkan sekresi digestif untuk menghilangkan kram dan diare.
-          Steroid
R/  :    Diberikan untuk menurunkan proses inflamasi.
-          Antasida
R/  :           Menurunkan iritasi gaster, mencegah inflamasi dan menurunkan resiko infeksi pada kolitis.
-          Antibiotik
R/  :    Mengobati infeksi supuratif lokal.
      g.   Bantu/siapkan intervensi bedah.
                        R/  :          Mungkin perlu bila perforasi atau obstruksi usus terjadi atau penyakit tidak berespon terhadap pengobatan medik.

            2.   Resiko kurang volume cairan  b/d Kehilangan banyak melalui rute normal (diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan terbatas.
       

                  Tujuan :
                  Klien akan menampakkan volume cairan adekuat/mempertahankan cairan adekuat dibuktikan oleh membran mukosa lembab, turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik, TTV stabil, keseimbangan masukan dan haluaran dengan urine normal dalam konsentrasi/jumlah.
                  Intervensi :
              a.   Awasi masukan dan haluaran urine, karakter dan jumlah feces, perkirakan IWL dan hitung SWL.
                        R/  :     Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian cairan.
                  b.   Observasi TTV.
                        R/  :     Hipotensi (termasuk postural), takikardi, demam dapat menunjukkan respon terhadap dan/atau  efek kehilangan cairan.
                           c.   Observasi adanya kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, prngisisan kapiler lambat.
                                 R/  :  Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.
                           d.   Ukur BB tiap hari.
                                 R/  :  Indikator cairan dan status nutrisi.
                           e.   Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring dan hindari kerja.
                                 R/  :  Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan
                                 kehilangan cairan usus.
                           f.    Catat kelemahan otot umum dan disritmia jantung
                                 R/  :     Kehilangan cairan berlebihan dapat menyebabkan ketidak seimbangan elektrolit. Gangguan minor pada kadar serum dapat mengakibatkan adanya dan/atau gejala ancaman hidup.
                           g.   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
-          Cairan parenteral, transfusi darah sesuai indikasi.
R/ : Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggatntian cairan untuk memperbaiki kehilangan/anemia.
-          Anti diare.
R/  :  Menurunkan kehilangan cairan dari usus.

-          Antiemetik
R/  :  Digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada eksaserbasi akut.
-          Antipiretik
R/  :  Mengontrol demam. Menurunkan IWL.
-          Elektrolit tambahan
R/  :  Mengganti kehilangan cairan melalui oral dan diare.

            3.   Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ganguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik, secara medik masukan dibatasi ditandai dengan :
                  -     Penurunan BB, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk.
                  -     Bunyi usus hiperaktif.
                  -     Konjungtiva dan membran mukosa pucat.
                  -     Menolak untuk makan.
                  Tujuan :
                  Klien akan menunjukkan/menampakkan BB stabil atau peningkatan BB sesuai sasaran dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
                  Intervensi :
                a.   Timbang BB setiap hari atau sesuai indikasi.
                        R/  :  Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan terapi.
                  b.   Dorong tirah baring dan/atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut.

                        R/  :  Menurunkan kebutuhan metabolik  untuk mencegah penurunan kalori
                        dan simpanan energi.
                  c.   Anjurkan istirahat sebelum makan.
                        R/  :  Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.
                  d.   Berikan kebersihan mulut terutama sebelum makan.
                        R/  :  Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan.
                  e.   Ciptakan lingkungan yang nyaman.
                        R/  :  Lingkungan yang nyaman menurunkan stress dan lebih kondusif untuk
                        makan.
                  f.    Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, flatus.
                        R/  :  Mencegah serangan akut/eksaserbasi gejala.
                  g.   Dorong klien untuk menyatakan perasaan masalah mulai makanan/diet.
                        R/  :  Keragu-raguan untuk makan  mungkin diakibatkan oleh takut makan
                        akan menyebabkan eksaserbasi gejala.
                  h.   Kolaborasi dengan tim gizi/ahli diet sesuai indikasi, mis : cairan jernih berubah menjadi makanan yang dihancurkan, rendah sisa, protein tinggi, tinggi kalori dan rendah serat.
                        R/  :        Memungkinkan saluran usus untuk mematikan kembali proses pencernaan. Protein perlu untuk penyembuhan integritas jaringan. Rendah serat menurunkan respon peristaltik terhadap makanan.
                  i.    Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
                        - Preparat Besi.
                           R/ :      Mencegah/mengobati anemi.
-    Vitamin B12
   R/ : Penggantian mengatasi depresi sumsum tulang karena proses inflamasi lama, Meningkatkan produksi SDM/memperbaiki anemia.
-    Asam folat.
   R/ : Kehilangan folat umum terjadi akibat penurunan masukan/absopsi.
-    Nutrisi parenteral total, terapi IV sesuai indikasi.
   R/ : Program ini mengistirahatkan GI sementara memberikan nutrisi
   penting.
            4.   Nyeri b/d Hiperperistaltik,diare lama, iritasi kulit/jaringan, ekskoriasi fisura perirektal ditandai dengan :
                  - Laporan nyeri abdomen kolik/kram/nyeri menyebar.
                  - Perilaku distraksi, gelisah.
                  - Ekspresi wajah meringis
                  - Perhatian pada diri sendiri.
                  Tujuan :
              - Klien akan melaporkan nyeri hialng/terkontrol.
                  - Klien akan menampakkan perilaku rileks dan mampu tidur/istirahat dengan
                    tepat.
              Intervensi :
                  a.  Dorong klien/keluarga untuk melaporkan nyeri yang dialami oleh klien.
                       R/   :   Mencoba untuk mentoleransi nyeri daripada meminta analgesik.
                  b.  Observasi laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas (skala 0 – 10), selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.
                       R/  :          Nyeri sebelum defakasi sering terjadi dengan tiba-tiba dimana dapat berat dan terus menerus. Perubahan pada karakterisik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi.
                  c.  Amati adanya petunjuk nonverbal , selidiki perbedaan petunjuk verbal dan nonverbal.
            R/  :    Bahasa tubuh/petunjuk nonverbal dapat secara psikologis dan fisiologis dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk untuk mengidentifikasi luas/beratnya masalah.
        d. Kaji ulang faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya/menghilangnya nyeri.
            R/  :    Dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau faktor pemberat atau mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
        e.  Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi dan aktifitas
            senggang.
            R/  :    Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.
        f.  Observasi/catat adanya distensi abdomen dan TTV.
            R/  :    Dapat menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi, edema dan jaringan parut.
        g.  Kolaborasi dengan timgizi/ahli diet dalam melakukan modifikasi diet dengan
            memberikan cairan dan meningkatkan makanan padat sesuai toleransi.
            R/  :    Istirahat usus penuh dapat menurunkan nyeri/kram.
        h.  Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
            - Analgesik
              R/  :        Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat secara adekuat dan prose penyembuhan.
            - Antikolinergik
              R/  :  Menghilangkan spasme saluran GI dan berlanjutnya nyeri kolik.
            - Anodin supp.
              Merilekskan otot rectal dan menurunkan nyeri spasme.

5.   Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan ditandai dengan :
                  - Eksaserbasi penyakit tahap akut.
                  - Peningkatan ketegangan, distress, ketakutan.
                  - Menunjukkan masalah tentang perubahan hidup.
                  - Perhatian pada diri sendiri.
      Tujuan :
              - Orang tua akan menampakkan perilaku rileks dan melaporkan penurunan
                    kecemasan sampai tingkat mudah ditangani.
                  - Orang tua akan menyatakan kesadaran perasaan kecemasan dan cara sehat
                    menerimanya.
      Intervensi :
                  a.  Amati petunjuk perilaku mis : gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku menarik perhatian.
                       R/  :    Indikator derajat kecemasan/stress. Hal ini dap terjadi akibat gejala fisik kondisi juga reaksi lain.
                  b.  Dorong orang tua untuk mengeksplorasi perasaan dan berikan umpan balik.
                       R/  :    Membuat hubungan teraupetik. Membantu klien/orang terdekat dalammengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress. Klien dengan diare berat/konstipasi dapat ragu-ragu untuk meminta bantuan karena takut terhadap staf.
                  c.  Berikan informasi nyata/akurat tentang apa yang dilakukan mis : tirah baring,
                       pembatasan masukan peroral dan posedur.
                       R/  :    Keterlibatan klien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan kecemasan.
                  d. Berikan lingkungan tenang dan istitahat.
                       R/  :    Memindahkan klien dari stress luar meningkatkan relaksasi dan membantu menurunkan kecemasan.
                  e. Dorong orang tua untuk menyatakan perhatian, perilaku perhatian.
                       R/  :    Tindakan dukungan dapat membantu klien merasa stress berkurang, memungkinkan energi dapat ditujukan pada penyembuhan/perbaikan.
                  f.  Bantu orang tua untuk mengidentifikasi/memerlukan perilaku koping yang
                       digunakan pada masa lalu.
                       R/  :    Perilaku yang berhasil dapat dikuatkan pada penerimaan masalah/stress saat ini, meningktkan rasa kontrol diri klien.
                  g.  Bantu orang tua belajar mekanisme koping baru mis : teknik mengatasi stress,
                       keterampilan organisasi.
                       R/  :          Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam menurunkan stress dan kecemasan, meningkatkan kontrol penyakit.

            6.   Kurang pengetahun orang tua (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis kebutuhan pengobatan b/d kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat dan tidak mengenal sumber informai  ditandai dengan :
                  - Pertanyaan, meminta informasi, pernyataan salah konsep.
                  - Tidak akurat mengikuti instruksi.
                  - Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah.
                  Tujuan :
              - Orang tua akan menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
                  - Orang tua akan dapat mengidentifikasi situasi stress dan tindakan khusus untuk
                    menerimanya.
                  - Orang tua akan berpartisipai dalam program pengobatan.
                  - Orang tua akan melakukan perubahan pola hidup tertentu.
                  Intervensi :
              a.  Kaji persepsi orang tua tentang proses penyakit yang diderita anaknya.
                       R/  :    Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu.
                  b.  Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor penyebab.
                       Dorong orang tua untuk mengajukan pertanyaan.
                       R/  :    Pengetahuan dasar yang akurat memberikan orang tua kesempatan untuk membuat keputusan informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit kronis. Meskipun kebanyakan klien tahu tentang proses penyakitnya sendiri, merek dapat mengalami informai yang tertinggal atau salah konsep.
                  c.  Jelaskan tentang obat yang diberikan, tujuan, frekuensi, dosis dan
                       kemungkinan efek samping.
                       R/  :    Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program.
                  d. Tekankan pentingnya perawatan kulit mis : teknik cuci tangan dengan baik
                       dan perawatan perineal yang baik.
                       R/  :  Menurunkan penyebran bakteri dan risiko iritasi kulit/kerusakan, infeksi.
                 
        C. Implementasi (Pelaksanaan dari Intervensi)

        D. E v a l u a s i    
            Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama diare dikatakan berhasil/efektif jika :
            1.   Klien mampu menampakkan hilangnya diare melalui fungsi usus optimal/stabil.
            2.   Komplikasi minimal/dapat dicegah.
            3.   Stres mental/emosi keluarga (orang tua) minimal/dapat dicegah dengan menerima kondisi dengan positif.
            4.   Orang tua mampu mengetahui/memahami/menyebutkan informasi tentang proses penyakit, kebutuhan pengobatan dan aspek jangka panjang/potensial komplikasi berulangnya penyakit.

No comments:

Post a Comment